Monday, July 31
last moments
Sunday, July 23
after a long day
Hmm... this is quite a long day, started from 6 a.m, all the way to 9 PM. Goodness!!!
Tired, pegel2, capek, and so on ......
Isaiah 40:1 - "comfort...comfort, My people"
Friday, July 21
my holiday (part II) : PANGANDARAN
Summer holiday-ku yg pertama ini tanpa diduga harus diusik dengan adanya ‘Tsunami Vol. II di Pangandaran dan Cilacap.” Hari Rabu siang mendadak gua diajak Bung Tinus, sang pendeta preman utk ikut pergi ke Pangandaran bersama dengan team Rebana yg mau nyerahin bantuan utk para korban. 10 tahun udah gak pernah kesana, sekalinya diajak pergi ya pas ada musibah ini.
Begitu ditanya awalnya rada ragu juga mau ikut kaga, soalnya ini gak maen2, gempa tsunami itu biasanya gak cuma sekali n emang org yg ngajak ini sdh biasa NEKAD sedangkan gue rasanya kaga.
Setelah mengiyakan n atur2 jadwal, tepat tengah mlm hari Rabu kami berangkat ke Pangandaran dari Wastukencana 40. Kami bawa 2 karung besar selimut dan sarung (which is rada aneh krn biasa orang bawa indomie beras dll, tapi justru barang bawaan ini yg lebih diperlukan warga). Gue duduk di kursi tengah didempet oleh 2 pendeta berbadan subur. Lutut kaki dlm posisi duduk tegak cuma bisa kerasa super pegel2 selama 4 jam gak bisa gerak apa2. Sadis juga…hehehe. Kami tiba di Pangandaran jam 4 subuh, begitu nyampe langsung parkir di depan Mesjid Agung Pangandaran n acara lanjut dgn minum kopi di warung Pak Bejo. Demikianlah si Pak Bejo bercerita pake bhs Jawa dengan Bung Tinus dan Bung Raymond yg bermuka Ambon dgn lancar ngobrol sama si Pak Bejo, gue cuma bengong sambil ngedengerin cerita seputar tsunami, tanpa minum kopi krn kopinya cuma ada Kopi Kapal Api yg pahit tenan (cappuccino ora ono, rekk..). Orang2 di warkop pada bengong ini kok nyong Ambon berdua ini lancar kali ngomong bhs Jawa-nya, n lagi2 gue cuma bengong2 sendiri sambil senyum2 gigi kering tak terasa spt lagu “Plis Dong Ah.”
Si Pak Bejo cerita ternyata itu air laut dari tsunami itu mencapai POS MASUK dimana mobil2 yg mau masuk ke pantai hrs bayar dulu, itu kan cukup jauh. Jadi kekuatan ombaknya jg lumayan punya. Kami masuk menyusuri lokasi mulai dari pos itu emang dah keliatan itu gundukan pasir laut nyampe ke depan pos. Gile juge!
Pemandangan tak asyik mulai diliat pas di dekat garis pantai. Hotel, restaurant, café, toko, dll yg persis di pinggiran pantai, apalagi WC Umum, sdh gak ada bentuknya. Ada bangunan sisa: WC diatas lantai 2, dengan tangga, tapi Cuma itu doank, sebelahnya gak ada bangunan lagi alias hilang diterjang arus air laut, gila juga sampe bisa begitu.
Itu di pantai barat. Di Pantai Timur lain cerita lagi, benteng2 pembatas pantai yg terbuat dari beton itu batu2nya pada berhamburan dimana2 karena pas air datang, batu2 yg beratnya luar binasa itu bisa beterbangan bak burung camar dengan arus air yg kencang banget.
Di lokasi tsunami ini ada banyak pihak berdatangan. Mereka pada buka tenda. Ada PMI, tim SAR, Bank-bank, perusahaan2, n juga partai2 gak ketinggalan. Yang paling banyak sebetulnya partai2. Hmm di lokasi musibah ini ternyata orang2 yang datang masing2 punya misi dan tujuannya sendiri2. Ada yang datang bawa bantuan murni utk menolong sesama. Ada yang datang mau kampanye, ya itu lho partai2 politik, lebih keliatan benderanya daripada bantuan-nya. Kami juga bertemu dengan “mafia tanah” yang pas ditanya “ingin tau” seperti apa sich tsunami itu. So, people came with their own motivation. Masing2 punya tujuan-nya sendiri. Sedih juga sih liatnya, apalagi orang2 yang memanfaatkan penderitaan orang lain buat keuntungannya sendiri. Apa gak ngenes gitu ya liatnya?
Ok, friends. Photo menyusul. Gondok juga kemarin pas berangkat SD Card-nya tertinggal di card reader so cuma bisa ambil photo pake built-in memory. hehehe.....
Monday, July 3
humming this song...
Tak Pernah Sendiri
© UX Band – Yordan Kurniawan
Saat kau jatuh
Dan terluka
Hidup hampa kau rasa
Jangan pernah takut dan menyerah
Karena aku pernah merasakannya
Saat kau sendiri menanti
Harapan yang tak pasti
Janganlah kau bimbang menjalani
Karena semua pernah aku lalui
Buluh yang patah terkulai
Takkan pernah dipatahkan
Sumbu yang pudar nyalanya
Takkan pernah dipadamkan
Sadarilah bahwa
Kau takkan pernah sendiri
Ada Yesus yang slalu peduli
Tuhan tak pernah tinggalkan
Dia slalu perhatikan